Sebelumnya, saya ucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1429 H kepada seluruh umat muslim sedunia. Segenap kru Andri Journal, mulai dari Satpam hingga Direktur Utama, memohon maaf lahir dan batin atas segala khilaf sekaligus berdoa semoga amal ibadah kita diterima Allah SWT..Amiin..
Anda masih ingat tentang kecelakaan yang menimpa ayah saya beberapa waktu lalu? Jika tidak, ada baiknya Anda membaca postingan di
sini sebelum membaca postingan kali ini.
Sepulang dari Kalimantan, saya sempat kaget begitu melihat kondisi ayah saya. Sebenarnya sudah banyak peningkatan yang dialami ayah saya. Dirinya sudah bisa berjalan, dan itu tanpa dibantu. Gejala sisa hemiparesis itu
sekarang tinggal rasa kesemutan pada tangan kanan. Mata sebelah kanan pun, yang dulu susah membuka, sedikit demi sedikit sudah bisa membuka, walau pun terkadang penglihatannya menjadi dobel bila kedua matanya dibuka. Puji Tuhan.
Yang membuat kaget adalah kondisi
kejiwaan ayah saya. Ayah saya mengalami apa yang dunia kedokteran sebut sebagai
Gangguan Mental Organik. Dalam buku Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia, edisi ke III (PPDGJ-III) yang diterbitkan oleh Direktorat Kesehatan Jiwa Depkes RI, ayah saya didiagnosis sebagai Sindrom Pasca-Kontusio (kodenya F07.2). Termasuk dalam kategori F07: Gangguan Kepribadian dan Perilaku Akibat Penyakit, Kerusakan dan
Disfungsi Otak.
Deskripsi dari
kondisi kejiwaan ayah saya adalah sebagai berikut.
Kesadaran ayah saya penuh, jika diukur dengan
Glasgow Coma Scale skornya 15. Orientasi terhadap orang, waktu, tempat atau situasi tidak terganggu. Vital sign dalam batas normal walaupun tekanan darahnya agak rendah, sistoliknya berkisar 90 mmHg.
Isi pikiran didominasi oleh autofobia dan obsesi.
Autofobia artinya takut sendirian, walaupun bukan dalam keadaan yang ekstrim. Seringkali ayah memanggil-manggil ibu saya jika dirinya sedang sendirian, di ruang tamu misalnya. Meskipun saya kemudian datang menghampirinya, dirinya masih saja bertanya, “Dimana ibumu?”.
Sedangkan obsesi adalah pikiran, perasaan atau rangsangan yang tidak dapat ditahan dan menetap yang tidak bisa dikeluarkan dari kesadaran dengan usaha-usaha yang masuk akal yang ada hubungannya dengan ansietas. Semenjak saya di rumah, hampir tiap pagi hari kami (saya dan ibu saya) berdebat dengan ayah. Dialognya kira-kira seperti ini.
1…2…3…ACTION!!
Ayah:”Kunci motornya dimana?” (sambil muter-muter nyari kunci motor)
Saya:”Disimpan sama ibu”
Ayah:”Mana Wi?”
Ibu:”Memangnya kamu mau kemana to yah?”
Ayah:”Mau ke sekolah”
Ibu:”Ngapain?”
Ayah:”Mau ambil soal-soal”
Saya:”Lha…Hari ini kan libur yah…Lagian, apa ayah sudah kuat naik sepeda motor?”
Ayah”Ya…Belum”
Saya:”Nah, lha nanti kalau nanti jatuh di jalan kan bisa berabe yah…Nanti saja kalau dah sehat kuncinya dikasih”
CUT!
Perlu waktu lama untuk menjelaskan kepada ayah bahwa pergi ke luar dengan sepeda motor adalah tindakan berbahaya. Terkadang berhasil, tapi ada kalanya ayah nekat ke jalan raya. Di sana, biasanya saya dan ayah saya ngobrol beberapa menit, sebelum dirinya mengajak pulang kembali ke rumah. Dia kemudian tidur.
Ayah terobsesi untuk berangkat bekerja. Mungkin ini ada hubungannya dengan sifat ayah dulu yang workaholic.”Itu namanya
post power syndrome Dik”, kata kakak sepupu saya. Walau punya fobia dan obsesi, untungnya ayah tidak memiliki gejala waham tertentu, setidaknya hingga saat ini.
Cara berpikir ayah bisa dikatakan konkrit, artinya ayah tidak dapat berpikir secara perumpamaan atau dugaan. Pikirannya terbatas pada satu dimensi arti. Terkadang juga tidak logis. Pernah ketika saya hendak keluar naik sepeda motor.
Ayah:”Ndri, nanti orang-orang di lapangan dikumpulkan ya”
Saya:”Buat apa yah?”
Ayah:”Ya pokoknya dikumpulkan saja. Aku mau ngasih penjelasan”
Saya:”Dimana kumpulnya?”
Ayah:”Ya terserah. Di sini juga gak pa pa”
Saya:”Ya, gampang”
Sekembalinya saya ke rumah, ayah tidak menanyakan hal itu lagi, lupa mungkin.
Afek ayah saya serasi, artinya suasana emosional serasi dengan gagasan pikiran atau pembicaraan. Meskipun terkadang berlebihan dalam mengekspresikannya. Pernah suatu ketika ayah mengumpat-umpat, satu hal yang jarang dilakukannya saat sebelum sakit dulu, amat sangat jarang. Bisa dikatakan moodnya sangat peka dan cenderung mengarah ke permusuhan. Kecemasan sedikit banyak terlihat bila ayah teringat akan pekerjaan. Terlalu banyaknya tanggung jawab yang harus dipikul saat masih sehat dulu membuatnya gelisah. Sekali lagi saya katakan, itu biasanya terjadi pada pagi hari.
Tingkat kognitif ayah bisa dikatakan naik turun, tergantung dari mood saat kita memberi pertanyaan.
Saat mood jelek:Saya:”5+5 berapa pak?”
Ayah:”225”
Saya:”Kalau 6+5”
Ayah:”13”
Saya:”10-4”
Ayah:”5”
Wedew…
Saat mood bagus:Saya:”Yah…zakat fitrah berapa kilogram coba?”
Ayah:”2,5 kilogram”
Saya:”Berarti kalau 4 orang”
Ayah:”10 kg”
Wow…
Saat mood bagus sekali:(Ini sepulang dari sholat tarawih di masjid)
Saya:”Yah…Kamu tadi ndengerin khotbah gak?”
Ayah:”Iya”
Saya:”Tentang apa coba?”
Ayah:”Tentang zakat kan?”
Saya: (mengangguk-angguk tanda membenarkan)
Ayah:”Tapi khotibnya bodoh”
Saya:”Lho, memangnya kenapa yah?”
Ayah:”Dia cuma membahas zakat saja. Sama sekali tidak membahas bagaimana caranya membangun masjid supaya lebih bagus”
Wow…wow…wow…
***
Gegar otak (trauma kapitis), menurut Maramis (seorang ahli kedokteran jiwa), dapat merupakan faktor pencetus bagi skizofrenia atau psikosa manik-depresif pada orang yang mempunyai predisposisi untuk ini. Gangguan jiwa yang menahun mungkin primer karena gegar otaknya, mungkin juga sekunder (
psikonerosa). Pasien gegar otak sedapat mungkin dirawat di rumah sakit dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Bila tidak terdapat gangguan lain, sesudah 2-3 hari penderita dibolehkan duduk dan esok harinya disuruh berjalan. Jangan sekali-kali menakut-nakuti penderita, sebab nanti akan lebih besar kemungkinan timbulnya nerosa atau gangguan psikosomatik dan lebih sukar diobati.
Gegar otak bisa menyebabkan perubahan kepribadian. Perubahan kepribadian ini ialah primer oleh karena kelainan histologis pada jaringan otak karena gegar otak itu. Tetapi faktor-faktor psikologis pun mempunyai pengaruh. Tidak jarang, kecenderungan-kecenderungan yang sebelum gegar otak itu masih dapat ditekan dan dikuasai, sesudahnya menjadi manifest. Gejal-gejalanya antara lain: sakit kepala, pusing, lekas lelah, mudah terangsang oleh suara keras, insomnia, lekas lupa dan daya konsentrasi berkurang. Dan bila gangguannya lebih keras, maka penderita menjadi sangat lekas marah, tidak memperdulikan lagi keluarganya, acuh tak acuh, egoistis, tidak tahu tanggung jawab, agresif, gelisah atau menarik diri dan malas.
Pengobatan untuk perubahan kepribadian semacam ini yang paling baik adalah dengan menenteramkan penderita terutama waktu hari-hari pertama sesudah trauma. Hampir semua penderita gegar otak memerlukan psikoterapi yang suportif dan sugestif. Ia jangan terlalu cepat kembali ke pekerjaan yang terlalu melelahkan, tetapi sebaliknya, istirahat yang terlalu lama dapat menimbulkan nerosa yang timbul sekunder karena gegar otak itu. Perlu digaris bawahi bahwa, bagi timbulnya nerosa ini, sangatlah penting kepribadian
premorbid dan keadaan emosi pada waktu gegar otak terjadi, dan bukan kerasnya trauma.
Oh iya, saat ini ayah saya sedang menjalani pengobatan dengan anti-psikotik, diantaranya Chlorpromazin, Haloperidol, THP, dan Amytriptillin. Selain itu saya juga menambahkan suplemen mata, tentunya setelah berkonsultasi dengan ahli saraf yang menangani ayah saya, berupa Matovit.
Sekali lagi saya mohon doa dari Kawan-Kawan sekalian semoga ayah bisa sembuh, jiwa dan raga. Amiin.
Iklan Layanan Masyarakat:Kalau ada waktu senggang, silakan Anda-Anda menge-klik iklan di pojok kiri atas blog ini. Supaya uang saya tambah banyak...heee...Makasih ya...See you nex time. ^^
Courtesy : http://eharmayaku.blogspot.com/2008/10/gangguan-mental-organik-gmo.html
Technorati Tags:
Gangguan Mental Organik (GMO),
Perjalanan Hidup Seorang Dokter Jawa